Jumat, 19 Agustus 2016

untuk tuan kopiku

Ini balada cinta tuan kopi
Tuan yang berbahasa batu
Tuan yang tak habis menatap mataku sambil menyeruput pagi
Ya tuan
Kamu cangkir yang kuisi tiap dini sampai dingin ku minum pada pagi
Kini teguk cintamu yang ku sisakan di cangkir kosong siang nanti
Karena aku pasti sudah pergi
Takkan menoleh kembali

kopimu

Tanpa kata tanpa tanda
Kamu kehilanganku
Aku pergi ke tempat baka
Lalu kabar kita merambat lambat 
Kamu tangis aku tamat
Terlambat
Tak sanggup kusentuh lagi kamu yang hangat
Sayang
Aku selalu haus jadi malammu
Jadi cangkir kopi panas mu
Jadi damai pantaimu
Kini kemana-mana ku bawa bebatu rindu
Berharap satu
Kamu melihatku
Aku harus abadi
Kutinggal kamu pergi
Suatu saat jika awan menggerimisimu lalu kamu ingat aku, katakan pada angin pada pantai dan pada kopimu kalau “rindu ingin segera menemuimu”

kamu

Aku tak lagi bisa
Mengikuti kamu melangkahi sore
Karena kamu
adalah senja itu sendiri
aku berdiri disini
ditepian harimu
karena berulang kali kita berjanji
berulang kali pun kita mengiris hati
Aku hanya ingin disini
Membiarkan perih dibasuh sore
Menunggu kabar darimu untuk sebuah tatap
Lalu kembali sendiri

Ahhhh...Kamu selalu saja begitu..

Kamis, 21 Juli 2016

Satu Rindu dan Selalu Begitu

kamu ..
ketika ku eja menjadi R.I.N.D.U
Huffttt spelling yang kacau.

dan kemuadian galau

Rabu, 20 Juli 2016

Rasa itu Selalu Tertuju Padamu

Lagi dalam beberapa hari ini,
aku memanggil namamu tanpa suara,
menyiratkan kerinduan yang teramat,
terlalu rindu sampai bersuarapun rasanya susah.
Kamu yang diam-diam selalu terlintas di pikiranku,
Membuat otakku lumpuh seketika.
Aku mengingkan kamu.....
yaa benarr
Aku memang selalu menginginkanmu, disetiap nafas.
Menginkanmu sampai membuatku terkadang sakit kesulitan bernafas.
Kamu.
Aku tidak tahu, kamu di sana merasakannya atau tidak.
Tapi, asal kamu tahu,
aku sangat tersiksa sendiri ku berdiri disini
Di sudut pojok ruang hati
Mencari-dan terus mencari
Tanpa tahu apa yang ingin dicari
Hanya bisa merasakan
mencoba mencari kejujuran
Dalam rasa yang terus bergelora tak berkawan
Atas hati yang terus berkinginan
Tak ada angin berhembus
Membuat peluh mengalir menembus
Membawa sebuah kerinduan yang tak bertepi
Selalu hadir dalam hidup sepi
Biar, biarkan aku menata ruang di hati
Karena tak sedikit inginku atas cinta ini
Menggurat membekas di dalam nurani
Terus berbisik dan menyapa meyakini
Bagai gerimis turun malam hari
Menyapu jejak luka
Membangkit memberi pesona
Atas suatu keinginan diri
Seorang yang kusayangi
Terimakasih ku atas semua ini
Kau telah miminjamkan ku sayap
Biar ku coba terus terbang merayap
Mengantarkan ketulusan cinta yang termiliki
Dalam Perenunganku, Mencoba merasakan cinta

Kamu,aku dan Rindu

Dulu rindu tak pernah sekejam ini
melibatkan jarak dan waktu
menghalangi aku dan kamu untuk bertemu
Dulu rindu tak pernah sepedih ini
memandangmu dari selembar foto yang usang
Dulu rndu tak pernah sekekal ini
menahan semuanya
bertumpuk hingga pilu
menyesakkan
 
Dan sekarang
rindu ini mulai membunuh szeluruh waktuku
sakitnya sudah tak menentu
karna temu masih cemburu akan waktu

Tentang wanita penikmat Kopi

aku malu menulis ini sejujurnya
tapi tak apa
sebab pagi ini aku selangkah lebih maju melukiskan hatiku tentangmu
aku hanya wanita
aku tau itu
tapi tak salah kan jika aku menuliskan surat ini untukmu
lelaki yang dengan tatapannya membuat aku bahagia?
pagi..
siang..
sore..
malam..
ada saja yang ia lakukan untukku bahagia
jejak jejak kaki kita yang menapak dipantai
ah, sungguh aku merindukan kita yang dekat tanpa jarak sesentipun
sekarang? hah!!
aku terlalu banyak menuliskan rindu diatas kertas dg tinta hitam ini
tapi kopiku tak pernah absen untuk temani sunyiku,
temaniku melawan rindu
kurasa ia merindukan bincang kita pula
kuharap,
seiring percakapan kita tak pernah menjadi mahal
rindu ini layaknya ampas,mengendap ikhlas tanpa minta tuk diteguk
begitu bukan?